DUNIA DAN AMAL SHALIH

Posted in Uncategorized on 28 Maret, 2008 by Agus Anshori
Imam Nawawi dalam muqodimah kitab beliau yang sangat bermanfaat, Riyadus Shalihin. Beliau berkata, Allah berfirman

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إلاَّ لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ منْهُمْ مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونَ

Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan (Adz-Dzariaat:56.57)

 
Imam Nawawi dalam muqodimah kitab beliau yang sangat bermanfaat, Riyadus Shalihin. Beliau berkata, Allah berfirman

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إلاَّ لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ منْهُمْ مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونَ

Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan (Adz-Dzariaat:56.57)

Ayat diatas merupakan keterangan yang sangat jelas bahwa jin dan manusia diciptakan untuk beribadah. Oleh karena itu sudah semestinya mereka memperhatikan untuk apa mereka diciptakan, seraya berpaling dari kemewahan kemegehan dunia dengan bersikap zuhud, karena dunia merupakan alam fana yang tidak akan kekal. Dunia hanyalah merupakan jembatan yang menghubungkan ke alam akhirat, bukan tempat untuk bersenang-senang dan tempat tinggal yang abadi. Oleh karena itu, orang-orang yang sadar dan memahami akan benar-benar melaksanakan ibadah dan orang-orang yang sehat akalnya adalah orang-orang yang zuhud. Allah berfirman

إنَّمَا مَثَلُ الحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَآءِ فَأخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ ممَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالأَنْعَامُ حَتَّى إذَا أَخَذَتِ الأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَأزَّيَّنَتْ وَظَنَّ أهْلُهَا أنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيها أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلاً أَو نَهَاراً فَجَعَلْنَاهَا حَصِيداً كَأَن لَّمْ تَغْنَ بِالأَمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir (Yuunus: 24)

Salah seorang penyair berkata

إِنَّ للهِ عِبَاداً فُطَنَا طَلَّقُوا الدُّنْيَا وخَافُوا الفِتَنَا
نَظَروا فيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنَا
جَعَلُوها لُجَّةً واتَّخَذُوا صَالِحَ الأَعمالِ فيها سُفُنا


Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang cerdas, yaitu yang tidak mementingkan dunia dan takut akan fitnah
Mereka senantiasa memperhatikan, maka ketika mengetahui, dunia ini bukanlah tempat tinggal selama-lamanya bagi yang hidup.
Merekapun menjadikan dunia bagaikan samudra dan menjadikan amalan shalih sebagai bahtera untuk berlayar mengarunginya

KAPAN HADITS DIKATAKAN SHOHIH

Posted in Uncategorized on 28 Maret, 2008 by Agus Anshori

 

 

Hadits ada yang shahih dan ada yang daif. Kriteria apa saja sehingga sebuah hadits dapat dikatakan sebagai hadits yang shahih? Berikut ulasan singkat

Untuk mengetahui apakah sebuah hadits merupakan hadits shahih atau hadits daif diperlukan sebuah ilmu yang dikenal dengan ilmu mustholah hadits. Banyak kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama ahli hadits yang membahas tentang ilmu mustholah hadits ini.

Untuk menyederhanakan pembahasan agama, sering yang kita baca atau dengar dari sebuah hadits hanya matan/isi dari sebuah hadits, padahal sebenarnya para ulama ahli hadits meriwayatkan tidak hanya matan/isi akan tetapi juga sanad/periwayatan (urutan periwayatan hadits dari Rasulullah saw atau sahabat sampai kepada para ulama penulis hadits). Jadi dalam teks hadits yang lengkap terdiri dari 2 bagian:

  • Sanad/periwayatan
  • Matan/isi

Dr. Mahmud Thahan dalam kitab beliau, Taisir Musthalah Hadits menjelaskan sarat-sarat sebuah hadits dihukumi sebagai hadits shahih.

  • Sanadnya tersambung, artinya setiap rawi mengambil haditsnya secara langsung dari orang di atasnya, dari awal sanad hingga akhir sanad

  • Adilnya para perawi, yaitu setiap periwayat harus: muslim, baligh, berakal, tidak fasik, dan tidak buruk tingkah lakunya

  • Dlabith, yaitu setiap rawi harus sempurna daya ingatnya, baik dalam hafalan atau catatan.

  • Tidak syadz, yaitu tidak menyilisihi dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang lebih tsiqah

  • Tidak ada illat, yakni haditsnya tidak cacat.

Sebagai contoh, sebuah hadits dalam Shahih Bukhari


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ


Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Yusuf, yang berkata telah mengkabarkan kepada kami Malik, dari Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Jabir bin Muth’im, dari bapaknya, yang berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw membaca surat At-Thur di waktu shalat maghrib” (HR. Bukhari, No 731)

Hadits diatas dihukumi sebagai hadits shahih karena:

  • Sanadnya tersambung, sebab masing-masing periwayat yang meriwayatkan telah mendengar haditsnya dari syaikhnya (gurunya). Sedangkan adanya ‘an’anah yaitu Malik, Ibnu Syihab dan Ibnu Jabir termasuk bersambung karena mereka bukan mudallis

  • Para periwayat hadits diatas semuanya adil dan dlabith. Kriteria mengenai mereka (para perawi hadits) telah ditentukan oleh para ulama Jarh wa Ta’dhil, yaitu:
    -Abdullah bin Yusuf: orangnya tsiqah (terpercaya) dan mutqin (cermat)
    -Malik bin Anas: Imam sekaligus hafidz
    -Ibnu Syihab Az-Zuhri: orangnya faqih, hafidz, disepakati tentang ketinggian kedudukan dan kecermatannya
    -Muhammad bin Jabir: tsiqah
    -Jabir bin Muth’im: sahabat

  • Tidak syad, karena tidak bertentangan dengan perawi yang lebih kuat

  • Tidak ada illat (cacat) dalam hadits diatas

Untuk mengetahui keadilan dan kedlabithan para perawi dengan cara meneliti biografi mereka. Para ulama telah menulis biografi para perawi dalam kitab yang banyak, diantara kitab-kitab yang memuat biografi para perawi hadits yaitu:

  • Tarikh Kabir, karya Imam Bukhari. Kitab umum yang memuat para perawi tsiqah maupun yang dhaif

  • Al-Jarh wa ta’dhil karya Ibnu Abi Hatim. Kitab umum yang memuat para perawi tsiqah maupun yang dhaif

  • Al-Kamil fi Asmair Rijal karya Abdul Ghani. Kitab ini membahas perawi hadits yang terdapat dalam kitab Kutubus Sittah

  • Dan lain-lain


Ilmu Mustholah hadits hanya ada dalam agama Islam sehingga ajaran Islam dapat dijamin keasliannya secara ilmiah, alhamdulillah

Mudah-mudahan penjelasan ini tidak memuaskan sehingga pembaca semakin bersemangat untuk mengkaji lebih dalam

 

Hiasi Diri Dengan Akhlaq Yang Baik

Posted in Akhlaq on 10 Januari, 2008 by Agus Anshori

Menghiasi diri dengan akhlak yang baik termasuk unsur-unsur ketakwaan, dan tidak sempurna ketakwaan seseorang itu kecuali dengan akhlak yang baik.

Allah Ta’ala berfirman:“…(Surga itu) disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imron: 133-134)

Dalam ayat yang mulia ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menganggap bahwa bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik termasuk pilar-pilar ketakwaan.

Apa keutamaan akhlak yang baik itu ?

Diantara keutamaannya adalah :
Pertama : Akhlak yang baik termasuk tanda kesempurnaan iman seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohihul Jami’, No. 1241)

Kedua : Dengan akhlak yang baik, seorang hamba akan bisa mencapai derajat orang-orang yang dekat dengan Allah Ta’ala, sebagaimana penjelasan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau: ”Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik bisa mencapai derajat orang yang berpuasa dan qiyamul lail.” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, No. 1937)

Ketiga : Akhlak yang baik bisa menambah berat amal kebaikan seorang hamba di hari kiamat, sebagaimana sabda beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak ada sesuatu yang lebih berat ketika diletakkan di timbangan amal (di hari akhir) selain akhlak yang baik.” (Shahihul Jami’, No. 5602)

Keempat : Akhlak yang baik merupakan sebab yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah ketika ditanya tentang apa yang bisa memasukkan manusia ke dalam surga. Beliau menjawab: “Bertakwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (Riyadhus Shalihin)Apa yang dimaksud akhlak yang baik itu ?

Imam Hasan Al-Bashri berkata : “Akhlak yang baik diantaranya: menghormati, membantu dan menolong.” Ibnul Mubarak berkata: “Akhlak yang baik adalah: “berwajah cerah, melakukan yang ma’ruf dan menahan kejelekan (gangguan).” Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Akhlak yang baik adalah jangan marah dan dengki.”

Al-Imam Muhammad bin Nashr mengatakan: “Sebagian ulama berkata: Akhlak yang baik adalah menahan marah karena Allah, menampakkan wajah yang cerah berseri kecuali kepada ahlul bid’ah dan orang-orang yang banyak berdosa, memaafkan orang yang salah kecuali dengan maksud untuk memberi pelajaran, melaksanakan hukuman (sesuai syari’at Islam) dan melindungi setiap muslim dan orang kafir yang terikat janji dengan orang Islam kecuali untuk mengingkari kemungkaran, mencegah kedzaliman terhadap orang yang lemah tanpa melampaui batas.”(Iqadhul Himam, hal. 279)

Bagaimana memperbaiki akhlak seorang hamba ?

Akhlak seorang hamba itu bisa baik bila mengikuti jalannya (sunnahnya) Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebab beliaulah orang yang terbaik akhlaknya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4). Allah Ta’ala juga menegaskan: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yakni) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (datangnya) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Maka sudah selayaknya bagi setiap muslim mempelajari riwayat hidupnya dari setiap sisi kehidupan beliau (secara menyeluruh), yakni bagaimana beliau beradab dihadapan Rabbnya, kelurganya, sahabatnya dan terhadap orang-orang non muslim.

Salah satu cara untuk mempelajari itu semua adalah sering duduk (bergaul) dengan orang-orang yang bertakwa. Sebab seseorang itu akan terpengaruh dengan teman duduknya. Nabi bersabda: “Seseorang itu dilihat dari agama teman dekatnya. Karena itu lihatlah siapa teman dekatnya.”(HR Tirmidzi)

Kemudian wajib juga bagi setiap muslim untuk menjauhi orang yang jelek akhlaknya. Mudah-mudahan dengan begitu kita termasuk hamba-hamba Allah yang menghiasi diri kita dengan akhlak yang baik.


“Fastabiqul khoirot” mari berlomba-lomba dalam berbuat baik (beramal sholih).

HIDAYAH (Petunjuk)

Posted in Keimanan on 10 Januari, 2008 by Agus Anshori

Harta yang paling berharga dalam hidup manusia adalah hidayah. Dengan hidayah orang menjadi beriman. Orang yang beriman tandanya adalah berbuat baik. Berbuat baik menjadikan kehidupan menjadi indah, damai, tentram, dan bahagia. Kalau kita mencari kebahagiaan, carilah hidayah, jadilah orang yang beriman, dan berbuat baiklah, maka akan kita rasakan kebahagiaan itu.

Sebagai contoh yang sederhana : orang yang memberi sesuatu pada orang lain dengan tulus karena Allah, akan merasakan ketenangan dan kebaikan dalam hatinya. Sedikitnya, dengan melakukan perbuatan yang baik, akan membuat kita merasakan ketenangan dan kebahagiaan itu.
Dalam kehidupan di dunia, orang sudah bisa merasakan, betapa mahalnya hidayah itu, sama halnya betapa mahalnya keimanan itu.

Walau begitu masih saja ada di antara manusia yang masih enggan melakukan ketaatan kepada Allah hanya karena tuntutan dunia. Bahkan ada yang menjual hidayah dengan kesesatan. Meninggalkan hidayah dengan menjemput kesesatan. Sebagai contoh, hanya demi mendapatkan sesuatu untuk kepuasan dirinya, urusan dunia, rela meninggalkan ketaatan pada Allah, rela meninggalkan perintah Allah, dan bahkan dengan sengaja melanggar larangan Allah. Sebagai contoh demi mendapatkan jabatan, rela tidak jujur, demi mendapatkan kekayaan/uang (baik kuli, maupun pejabat), rela tidak sembahyang, demi mendapatkan wanita, rela mengikuti ajakan setan yakni melanggar larangan Allah.

Makanya pernah Rasulullah mengatakan bahwa tidak beriman orang yang sedang mencuri, tidak beriman orang yang berbuat zina. Itu artinya orang yang sedang melakukan pelanggaran itu sedang meninggalkan keimanannya, walaupun setelah sadar ia mengakui telah berbuat salah.
Semoga kita selalu diberi petunjuk (hidayah) oleh Allah, sehingga kita selalu berada di jalannya. Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk bisa melaksanakan perintah-perintahNya dan diberi kekuatan untuk menjauhi dan meninggalkan larangan-laranganNya.

Untuk itu kita perlu selalu menambah ilmu kita, pemahaman kita akan ajaran Islam. Agar kita selamat dalam khidupan kita di dunia dan juga selamat di akherat kelak.

Kalau kita ingat dalam pelajaran agama, bahwa pernah Rasulullah saw memberitahu kita sebagai umatnya agar berpegang teguh pada dua hal yang apabila kita berpegang teguh kepada keduanya maka kita akan bisa selamat di kehidupan dunia ini, dan juga di kehidupan akherat kelak. Dua hal itu adalah AL QUR’AN dan SUNNATURRASUL. Ringkas kata, kita harus taat pada Allah dan RasulNya, kalau kita ingin selamat di dunia dan di akherat.

Bagaimana cara berpegang teguh pada keduanya. Yaitu dengan cara membacanya, memahaminya, dan melaksanakannya dengan kesungguhan hati, tulus, dan ikhlash dalam rangka taat pada Allah dan RasulNya.

Mari kita lakukan wahai saudaraku. Semoga dalam beramal dan berbuat kita selalu diberi hidayah dan kekuatan oleh Allah, sehingga kita selalu berada di jalan yang lurus, yaitu jalan yang benar, sesuai dengan kehendak Allah. Amiin.

Ihdinashiroothol mustaqiim. Semoga bermanfaat.

Tebarkan Salam Yuk

Posted in Akhlaq on 10 Januari, 2008 by Agus Anshori

“Orang yang paling kikir adalah yang kikir (enggan) mengucapkan salam, sedangkan orang yang paling lemah adalah yang enggan mendoakan.” (HR Al Bazar, AHmad, Al Baihaqi dari Jabir bin Abdullah al Anshari r.a.)

Jadi, apakah kata salam hanya sebatas penghormatan, ataukah memiliki makna yang lebih mendalam?

Salam yang disampaikan oleh orang yang mengucapkan akan menjadi sumber ketentraman bagi yang menerimanya, karena salam adalah salah satu dari asmaul husna, sebagaimana firman Allah swt : “Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera (As Salam), yang mengaruniakan keamanan, yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, yang memiliki segala keagungan, Maha Suci Allah dari segala yang mereka persekutukan.” (QS Al Hasyr (59) : 23)

Salam dipakai sebagai pembuka tatkala seseorang menemui orang lain, yang hendaknya menjadi dasar dari keinginan setiap orang dari orang yang ia temui, tanpa ada pertikaian dan permusuhan. Allah swt berfirman, “Dengan kitab itulah Allah menunjukit orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan …” (QS Al Maidah (5): 16)

Salam yang berarti kedamaian juga menjadi lambang surga yang biasanya disebut Daarus Salaam (Negeri Keselamatan). Allah swt. berfirman, “Bagi mereka (disediakan) Daarussalaam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal shalih yang selalu mereka kerjakan.” (QS Al An’am (6): 127)

“Allah menyeru (manusia) ke Daarussalaam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus (Islam)” (QS Yunus (10): 25)

Rasulullah menganjurkan, “Tebarkanlah salam, berilah makan dan shalatlah pada malam hari ketika orang-orang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan damai.”

Pembukaan dengan mengucapkan salam antara individu atau komunitas berlaku pada semua perkara dunia dan agama yang tidak dapat diganti dengan orang lain. Kalimat pembuka dapat menghindarkan permusuhan, pertikaian, bahkan dendam yang berujung pada pembunuhan, yang timbul karena tidak adanya pengetahuan, kemarahan, dan dominasi hawa nafsu.

Kemarahan adalah salah satu dari bara api neraka yang berkobar di depan manusia, sebagaimana kemerahan yang nampak pada mata seseorang ketika marah.

Allah swt mengajarkan pada orang yang beriman : “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (Al Qashash (28): 55)

Allah Maha Adil dalam memutuskan hukum antar individu dan komunitas. Sikap membalasperlakuan buruk dengan sesuatu yang lebih baik tidak berarti menunjukkan kelemahan dan ketundukan.

Jika ketika kita memulai sesuatu dengan kebaikan dan ucapan salam, mereka menolak dan berlaku sombong, maka kita akan tetap mendapan pahala kebaikan, sedangkan mereka mendapat balasan keburukan.

Sifat kikir tidak terbatas pada harta benda, namun mencakup hal-hal yang lebih sederhana dari itu, seperti mengucapkan salam, menampakkan wajah berseri, dan berprilaku bai, yang semuanya merupakan lambang perdamaian yang dapat membawa seseorang menuju surga.

Surga hanya dapat diraih dengan iman dan amal. Oleh karena itu setiap kali Allah menyebutkan kata “iman” dilanjutkan dengan amal shalih. Hal ini telah diketahui oleh setiap orang tanpa harus mengingatnya terlebih dahulu, karena yang diperlukan adalah sikap saling mengingatkan.

Marilah kita biasakan untuk selalu menebarkan salam kepada sesama muslim baik secara lisan maupun dalam perbuatan-perbuatan kita yang berkaitan dengan muslim yang lain. Kita jadikan orang lain merasa aman dan selamat dari ucapan dan perbuatan kita. Semoga Allah senantiasa memberkati kita dengan kedamaian dan memasukkan kita ke dalam surgaNya.

Amiin.

Kisah cinta seorang sahabat

Posted in Teladan on 28 Desember, 2007 by Agus Anshori

Banyak kisah cinta yang sering kita baca dalam kisah-kisah fiktif. Banyak juga kisah-kisah cinta yang benar-banar terjadi, yang sempat ditulis maupun yang tidak atau belum sempat ditulis. Banyak kisah cinta yang mengesankan yang membuat orang terharu, dan sebaliknya ada yang membuat rasa senang dan bahagia.

Kisah cinta para sahabat terhadap Nabi saw sangat luar biasa. Perasaan cinta tersebut menyebabkan mereka berani mengorbankan hidup mereka sehingga tidak mempedulikan nyawa mereka, tidak mengharapkan kehidupan dan kebendaan keduniaan, tidak mempedulikan kesusahan, dan tidak takut akan kematian.

Sesungguhnya cinta bukanlah cerita, namun merupakan cara yang ditunjukkan dengan kata-kata dan perbuatan. Cinta adalah sesuatu yang dapat mengalahkan segala sesuatu kecuali yang dicintainya itu. Ia tidak mempedulikan kesusahan atau kesenangan. Senoga Allah swt dengan kasih sayangNya, dengan kelembutanNya, dengan kecintaanNya terhadap kekasihNya, memberi kita perasaan cinta kepada Rasulullah saw. Sehingga semua ibadah dan amal kita akan terasa nikmat.

Kecintaan, Keislaman dan Penderitaan Abu Bakar r.a.

Pada masa permualaan Islam,, ketika orang-orang baru memeluk Islam, mereka menyembunyikan keislamannya. Sikap seperti itu dianjurkan oleh Nabi saw agar mereka tidak mendapat kesulita. Setelah orang Islam berjumlah 39 orang, Abu Bakar r.a. meminta izin kepada Nabi saw untuk mendakwahkan keislamannya secara terang-terangan. Awalnya Beliau saw. melarangnya, tetapi karena Abu Bakar mendesak berkali-kal akhirnya Nabi saw mengizinkannya.

Selanjutnya Abu Bakar mengajak semua orang yang sudah masuk Islam untuk berkumpul di Masjidil Haram. Lalu mulailah ia berkhutbah. Itulah khutbah pertama kali dalam Islam, dan pada hari itu pula paman Nabi saw., Hamzah, masuk Islam. Tiga hari kemudian Umar Bin Khaththab memeluk Islam.

Ketika khutbah dimulai, orang-orang kafir dan musyrik berdatangan dari empat penjuru dan menyerang kaum muslimin. Walaupun Abu Bakar terkenal sebagai tokoh terkemuka dan dihormati masyarakat Makkah, ia tetap dipukuli sehingga wajah, hidung, dan telinganya berlumuran darah, sampai sulit untuk mengenali wajahnya. Ia ditendang dengn sandal, dipukul dengan tangan, dan apa saja yang dapat mereka lakukan. Akhirnya pingsanlah Abu Bakar.

Ketika Bani Tamim, yaitu kabilah Abu Bakar mendengar berita tersebut, mereka segera mengangkat tubuh ABu Bakar. Mereka menganggap bahwa Abu Bakar sulit untuk diselamatkan. Mereka segera mendatangi Ka’bah dan mengumumkan, “Jika dalam peristiwa ini Abu Bakar meninggal, maka kami akan membunuh ‘Utbah bin Rabiah. Mereka mendengan bahwa ‘Utbah bin Rabi’ah sangat keterlaluan dalam pemukulan tersebut.

Hingga petang hari, ABu Bakar masih pingsan. Namun sore itu akhirnya ia dapat berbicara. Ucapannya yang pertama kali adalah “Bagaimana keadaan Rasulullah saw?” Orang-orang di sekitarnya mencelanya, karena setelah sehari penuh ia pingsan dan hampir mati, namun begitu sada, yang pertama kali ia tanyakan adalah Nabi saw. Akhirnya orang-orang meninggalkan tempat itu dengan hati yang kesal.

Ternyata Abu Bakar masih mempunyai harapan untuk hidup. Ia mulai dapat bicara. Ibunda ABu Bakar menyuruh Ummu Khair untuk menyediakan makan dan minum untuk Abu Bakar. Setelah siap, makanan yang dihidangkan di hadapannya. Namun Abu Bakar menolaknya. Ia hanya ada satu permintaan, yaitu jawaban tenta keadaan Nabi saw. Ibunya berkata,”Bagaimana saya dapt mengetahui keadaannya?” Abu Bakar berkata, “ertanyalah tentang keadaan Nabi saw di rumah Ummu Jamil r.ha. (saudara perempuan Umar r.a.)” Atas permintaan anaknya yang dalam keadaan memprihatinkan itu, ibunya pergi ke rumah Ummu Jamil. Setibanya di sana ia bertanya tentang keadaan Nabi saw kepada Ummu Jamil. Karena keadaan pada waktu itu, Ummu Jamil masih menyembunyikan jawabannya. Jawabnya: “Saya tidak mengenal siapa Muhammad dan siapa Abu Bakar, tetapi jika engkau izinkan, saya ingin melihat keadaan anakmu Abu Bakar.” Maka Ummu Khair mengizinkannya.

Ummu Jamil merasa tidak tega setelah melihat keadaan Abu Bakar. Tanpa disadari Ummu menangis sambil berkata, “Semoga Allah membalas perbuatan orang-orang jahat itu.” Lalu Abu Bakar bertanya kepada Ummu Jamil, “Bagaimana keadaan Rasulullah?” Ummu Jamil r.ha. memberi isyarat kepada Abu Bakar r.a. bahwa ibunya akan mendengarnya. Abu Bakar menjawab, “Jangan khawatir dengan ibuku.” Maka disampaikanlah keadaan Rasulullah saw., bahwa beliau selamat. Abu Bakar kembali bertany, “Benarkah beliau benar-benar selamat, di manakah beliau?” Jawab Ummu Jamil, “Sekarang ada di rumah Arqam r.a.” Kata Abu Bakar, “Demi Allah, saya tidak akan makan dan minum sebelum ketemu Rasulullah saw.”

Sebenarnya ibunya sangat ingin agar Abu Bakar mau makan, tetapi karena Abu Bakar telah bersumpah tidak akan makan sebelum bertemu dengan Nabi saw., maka ibunya menunggu sampai orang-orang yang lalu lalang itu berhenti. Karena jika mereka melihat ia menjumpaiNabi saw., mereka tentu akan menyiksanya lagi.

Ketika malam telah lewat, Abu Bakar r.a. diajak ke rumah Arqam r.a. Setelah berjumpa dengan Rasulullah saw, Abu Bakar segera memeluk beliau saw., dan beliau juga memeluk Abu Bakar r.a. Keduanya menangis. Kaum muslimin yang berada di tempat itu juga menangi ketika melihat keadaan Abu Bakar r.a.

Kemudian Abu Bakar meminta Nabi saw. agar mendoakan hidayah bagi ibunya, dan agar Nabi saw. mendakwahi ibunya. Mula-mula Rasulullah saw. mendoakannya, setelah itu barulah Ummu Khair (Ibu Abu Bakar) diajari tentang Islam. Mulai saat itu juga ibu Abu Bakar r.a. masuk Islam.

Allaahu Akbar.

Demikianlah sekelumit kisah yang pernah terjadi di awal perjuangan Rasulullah dan para sahabat dalam menegakkan Islam di muka bumi ini. Semoga Allah memberikan balasan dengan yang lebih baik atas perjuangan mereka.

Orang sering menyatakan cintanya dalam keadaan senang, bahagia, sejahtera, namun juga sebaliknya di saat susah bahkan saat terkena musibah sekalipun, manakala cinta telah tertanam di lubuk hatinya.

Umat Yang Pertama Kali Masuk Surga

Posted in Keimanan on 20 Desember, 2007 by Agus Anshori

Dalam shahih Buhkori dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Hamman bin Munabbih dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: “Kita umat terakhir namun paling awal pada hari Kiamat, meskipun mereka diberi kitab sebelum kita dan kita diberi kitab sesudah mereka”. (HR Bukhori, Muslim, Nasai dan Darimi)

Dalam Shahih Muslim disebutkan hadits dari Abu Shahih dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabd: “Kita adalah umat terakhir namun paling awal pada hari Kiamat, Kita adalah umat yang pertama kali masuk surga, meskipun mereka diberi kitab sebelum kita dan kita diberi kitab sesudah mereka. Mereka berselisih kemudian Allah memberi kita hidayah terhadap apa yang mereka perselisihkan berupa kebenaran atas seizinNya.” (HR Muslim)

Dalam shahih Bukhori dan Shaih Muslim disebutkan hadits dari Thawus dari Abu Hurairah r.a. yang berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Kita adalah umat terakhir dan paling awal pada hari Kiamat. Kita adalah umat yang pertama kali masuk Surga, kendati mereka diberi kitab sebelum kita dan kita diberi kitab sesudah mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Daruqutni meriwayatkan hadits dari Zubair bin Muhammad dari Abdullah bin Muhamad dari Uqail dari Zuhri dari Sa’id Musayyib dari Umar bin Khaththab r.a. dari Rasulullah saw yang bersabda, “Sesungguhnya surga diharamkan bagi para nabi hingga aku memasukinya dan ia diharamkan bagi umat-umat manusia hingga umatku memasukinya.”

Tentang umat yang pertama kali masuk surga, Abu Daud berkata dalam Sunan-nya, bahwa telah berkata kepada kami Hanad bin Suri dari Abdurrahman bin Muhammad al-Muhairibi dan Abdussalam bin Harb dari Khalid ad-Daalani dari Abu Akhalid mantan budak keluarga Ja’dah dari Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rsulullah saw bersabda, “Jibril datang kepadaku kemudian menggandeng tanganku dan memperlihatkan kepadaku pintu surga yang kelak dimasuki umatku”. Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, betapa inginnya aku bersamamu hingga aku bisa melihat pintu surga tersebut!” Rasulullah saw menjawab: “Adapun engkau wahai Abu Bakar, sesungguhnya engkau adalah umatku yang pertama kali masuk surga. (HR Abu Daud)

Demikian kami sebutkan beberapa hadits yang berkaitan dengan umat yang pertama kali masuk surga. Semoga bisa menambah keimanan kita. Dan semoga kita semua kaum muslimin yang beriman akan dimasukkah Allah ke dalam surga Allah, Jannatun Na’im. Amiin.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.